Monyet yang Jatuh Cinta
Di film-film, komik-komik, novel-novel, dan banyak media yang 'bercerita', sebagian besar bilang kalau yang namanya suka sama si doi itu terjadi di masa putih abu-abu.
Tapi gue kecepetan.
Kelas dua SMP yang membosankan, gue jatuh cinta.
Semua berawal dari obrolan ngawur temen-temen gue yang berencana macarin adek kelas secara berbarengan. Gue ketawa dalam hati, mengejek betapa ngaconya ide itu. Tapi mereka tetap melakukannya.
Dan... coba tebak. Mereka berhasil!
Ada tiga orang temen gue yang akhirnya benar-benar bisa pacaran sama adek kelas, dan, yang lebih mengherankan, mereka dapat yang terbaik. Satunya dapet yang paling ganteng, satunya dapet yang paling pinter. Saat itu gue cuma ngasih selamat asal-asalan, nggak terlalu perduli.
Maksudnya, ini SMP, bro. Masa emas buat ngembangin hobi dan bersenang-senang. Gue nggak punya waktu buat ngurus hal nggak penting kayak pacaran. Hal merepotkan kayak rasa suka.
Itu lah yang gue pikirkan selama SMP. Masa putih-biru itu gue habiskan buat 50% belajar dan 50% leha-leha. Dan berkat itu lah waktu luang gue banyak. Sayangnya, gue punya kebiasaan buruk; mengamati.
Karena sehari-harinya gue emang banyakan bengong, maka 'memperhatikan' ini jadi pelampiasan gue. Tapi SMP gue nggak menarik menarik amat sih, jadinya gue gampang bosen. Saat itu lah gue melihat temen-temen gue bareng pacar berondong-nya.
Bener-bener anak kecil. Nggak ada pengalaman pacaran sebelumnya. Bisa dibilang ini pertama kali. Hatsukoi, lah. Bocah banget pokoknya. Bisa apa mereka pas pertama pacaran?
Duduk-duduk sambil ngobrol lah, dempetan... pegangan tangan... malu-malu... semacam itu, lah.
Gue memerhatikan dengan ekspresi datar.
Temen gue yang pertama, periang dan polos. Dia bukan tipe orang yang memrotes sesuatu yang nggak dia suka, atau orang yang suka menyalahkan orang lain. Dia easy-going dan perhatian. Mungkin karena itu adek kelas gue yang paling ganteng itu jadi luluh. Adek kelas gue sendiri sepertinya udah pengalaman dengan cewek berkat wajahnya itu. Dia adalah cowok enerjik dan agak manja. Kadang egois, kadang agak sombong. Di awal hubungan mereka, selalu temen gue yang mengalah. Mungkin frasa 'yang pertama jatuh cinta lah yang kalah' itu ada benarnya.
Tapi yah, awalnya mungkin si cewek yang memulai, namun akhirnya si cowok lah yang nggak bisa melepaskan.
Temen gue yang kedua, agak pasif tapi punya energi positif yang bisa bikin sekitarnya nyaman. Dia pemberi saran yang baik, tapi tipe orang yang mudah cemburu. Meski begitu, dia pemaaf pun juga tidak segan meminta maaf. Nah, adek kelas gue ini lebih pasif lagi. Dia pendiam dan cenderung menutup diri. Tapi dia nggak pernah marah, kalem banget pokoknya. Dia mungkin pinter dalam akademik, tapi sosialnya nggak terlalu menonjol. Mungkin karena itu lah temen gue sering banget kasih si adek ini perhatian lebih, sampai-sampai adek kelas gue yang sehari-harinya expressionless itu akhirnya tersenyum.
Senyum kecil.
Senyum malu-malu yang... MANIS BANGET ASDFGHJKLDSHDJKA.
Saat gue sadar, jantung gue berdetak kencang dan pipi gue panas.
.
.
"You shouldn't."
.
.
Ini konyol. Gue dihantui oleh senyum itu berhari-hari. So fuckin' funny.
Oke, gue emang nggak tahan sama yang manis-manis. Gue gampang luluh sama kelakuan manis penuh aura moe. Tapi satu senti tarikan bibir adek kelas gue itu sangat adorable sampai gue bingung menjelaskannya gimana. Polos banget, murni banget. Senyum malu yang berarti 'terima kasih'. Manis. Rasanya gue pengen ngelihat dia tersenyum seperti itu selamanya.
Dan ya, harapan gue terwujud.
Tapi dia tersenyum untuk orang lain.
Nggak masalah, pikir gue. Toh, dia nggak kenal gue. Nggak mungkin dia ngelirik gue apalagi senyum kayak gitu buat gue. Nggak masalah. Asalkan bisa ngelihat, meski dari jauh, nggak masalah.
Namun kemudian, mereka pun putus.
Dan gue merasa jahat.
Gue jahat karena gue merasa seneng kalau mereka (akhirnya) putus.
Ada kesempatan, pikir gue. Entah kesempatan ngapain. Gue nggak paham soal beginian. Gue bahkan lebih pasif dari adek kelas gue sendiri yang notabene ditembak sama temen gue. Ya, para cewek lah yang nembak, yang memulai, yang jatuh cinta.
Dan gue apa? Gue bener-bener nggak mau memulai. Ego gue terlalu tinggi. Rasa malu mengalahkan semuanya. Padahal tinggal bilang 'suka' apa susahnya? Lewat SMS juga bisa. Facebook pun ada. Tapi gue nggak bergerak. Tetap bergeming, mengamati dari jauh.
Melihat bagaimana senyumnya pudar pelan-pelan.
.
.
"Foolish."
.
.
Pergantian semester, akhirnya kesempatan itu datang sendiri. Kesempatan emas yang disebut 'lomba'.
Gue bukan jenius, dia beda lagi. Hanya saja dari beberapa kandidat yang dipilih buat lomba ini, kebetulan cuma gue dan dia yang lolos.
DEMIAPA.
DEMIAPA YATUHAN CUMA KITA BERDUA.
Gue inget banget waktu itu saking senengnya gue pun berubah rapi, bersih dan wangi setiap kali kita pelatihan—yang berarti waktu ketemunya gue dan dia, HANYA GUE DAN DIA di luar sekolah.
YATUHAN SURGA MACAM APA INI.
Ini namanya setali tiga uang. Keuntungan ganda. Jackpot! Karena cuma dia orang yang satu sekolah sama gue, gue jadi punya alasan buat ngajak dia ngobrol.
Awalnya, gue inget banget, gue sangat sok akrab banget wahahaha...
Dari dekat begini, dia terlihat lebih dan lebih manis lagi. Caranya bicara, gimana dia bingung, gimana dia nyahut, gimana dia bilang 'ah?' karena sering nggak denger gue ngomong apa, caranya melirik, caranya menggoyang kaki saat gugup... gue jatuh cinta.
Sebelumnya gue udah bilang kalau dia itu pasif, dan gue juga. Tapi karena gue nggak mau kehilangan waktu yang nggak akan balik lagi, akhirnya kita lebih sering ngobrol satu arah dengan gue yang bicara dan dia yang mendengar sambil merespon sesekali. Pertemuan kita lumayan sering, sampai-sampai obrolan sampah gue meningkat jadi jokes yang walaupun garing, tetep bisa bikin dia ketawa kecil (meski kayaknya terpaksa, haha).
Sampai kemudian di suatu malam, HP gue yang biasanya nganggur pun bergetar. Tanda SMS masuk. Dari nomor tak dikenal.
Siapa, nih, pikir gue. Kalo nggak penting gausah bales. Hemat pulsa.
Tapi saat gue buka, tak perlu menebak siapa yang ngirim gue SMS. Segalanya terlalu jelas sejelas jus stroberi dalam gelas kaca.
"Besok ada pelatihan?"
Sekarang gue ngerti kenapa tokoh komik seneng banget sampai jumpalitan karena satu SMS doang.
Pengen gue bales, "ADA DONG PASTINYA KAMU DATENG BESOK YAA HARUS DATENG POKOKNYA NGGA BOLEH ENGGAK.", tapi karena terlalu alay akhirnya jadi "Ada." doang. Singkat, padat, jelas, dan tidak elegan.
Balasannya, "Ok."
Hey, kamu. Iya, kamu. Tahukah kamu kalau sapi makan rumput? Tahu, kan? Terus apa kamu tahu gimana rasanya nunggu balesan dari gebetan? GUE SAMPE NGGAK BISA TIDUR YATUHAN ASTAGA mantera macam apa yang bisa dibawa sebuah SMS, hal yang bahkan virtual, yang bisa bikin gue sekacau ini?!
Dan ya, gue nunggu satu kata anjay itu dua jam lamanya. Ya, gue nunggu. Hal yang nggak penting banget dan tetep gue lakuin.
Sekarang gue nggak lagi menghina ke-alay-an cewek-cewek sinetron atau pun komik-komik yang sampai nangis-nangis bahagia segala cuma gara-gara ditanggepin sama gebetannya. Karena—seriusan, rasanya memang se-menyenangkan itu.
Esoknya, dia datang ke pelatihan lebih awal. Gue basa-basi gugup, "Dimana dapet nomorku?"
Dia tersenyum misterius. Sampai saat ini pun gue nggak tahu dia dapat dari siapa.
Makasih banyak, loh. Siapa pun kamu.
.
.
"Little hope."
.
.
Mungkin gue terlalu maso. Gue terlalu banyak berharap.
Tapi apa salahnya? Dengan pemikiran begitu, gue pun meneruskan ke-maso-an gue dengan beranggapan kalo si doi juga ada rasa sama gue.
Meskipun cuma sedikit...
... sedikit.
Yah, sebenernya gue nggak ngenes-ngenes amat soal percintaan. Gue berani berharap lebih karena dia, dia yang saat itu jomblo, bisa dibilang ngasih gue respon yang 'tidak biasa'.
Satu.
Hari itu adalah hari ke-entah berapa pelatihan gue sama dia. Kita udah lumayan akrab (buktinya, dia udah berani nyapa duluan) (gue udah bilang dia itu pasif, 'kan) (jadi yang namanya 'nyapa duluan' itu berarti KEMAJUAN BESAR), meski masih kayak stranger kalau di lingkungan sekolah.
Jadi ceritanya nih, gedung pelatihan kita itu sama-sama di lantai 2, tapi beda kelas. Makanya pas mulai pelatihan sama selesai pelatihan itu kita naik-turun tangga barengan gitu ASDFGHJKL GUE NGETIK 'BARENGAN' AJA GIRANG. Karena hari itu kelasnya dia entah kenapa mulai lebih awal, jadi dia naik duluan sementara gue masih beli chiki di kantin bawah.
Dan entah kenapa (lagi) hari itu kelasnya dia dipindah ke lantai 1. Karena ruang kelasnya dipindah, otomatis semua murid kelas dia itu 'kan turun tangga, tuh. Nah, pas banget saat itu gue naik tangga mau ke kelas gue. Dan terjadilah kejadian simpel gak penting namun masih membekas sampai sekarang.
Gue papasan sama dia. Pas lewat, kita nyapa biasa. Gue lanjut ke atas, dia terus ke bawah. Kita sibuk sama tujuan masing-masing, tapi karena dia gebetan gue, gue pun nggak bisa nggak mengacuhkan dia.
Sampai di lantai 2, gue noleh, memastikan dia udah masuk kelas.
Tapi ternyata dia masih di bawah tangga... menatap gue... sambil senyum.
Senyum yang itu.
Senyum simpel yang berarti 'terima kasih' itu.
Gue kaget. BANGET. Respon refleks gue saat itu cuma senyum canggung dan meneruskan perjalanan. Tapi gue tahu, GUE TAHU, gue tahu dia terus ngeliatin gue sampai gue menghilang di ujung tangga.
Hari itu gue sama sekali nggak konsen pelatihan. Kepala gue penuh terisi bayangan dia berdiri di bawah tangga, menatap gue sambil senyum simpul.
Entah apa maksudnya.
Karena dia cuma pernah senyum gitu ke mantan pacarnya.
Gimana bisa gue nggak berharap?
Dua.
Gue udah bilang 'kan kalau di depan warga sekolah itu kita berdua kembali jadi stranger?
Kalau gue, jelas karena malu. Namanya juga gebetan. Tapi kalau dia, rada nggak jelas. Mungkin karena sehari-harinya dia memang cuek, atau dia ngerasa malu karena mengenal gue (kalau kalian mendengar suara retakan, itu harga diri gue).
Gue sendiri bakalan lebih seneng dia mengabaikan gue kalau semisal dia nggak punya perasaan lebih. Jauh lebih gampang bagi gue buat nggak berharap kalau semisal dia nggak peduli.
Tapi nggak. Hari dimana gue sama dia mengikuti lomba lain, bersama dengan 11 orang se-SMP, adalah hari yang nggak bakal pernah gue lupain.
Selain karena itu lomba ditayangin di TV Nasional, juga karena hari itu, entah ada angin apa, padahal ada 11 orang se-SMP, untuk pertama kalinya dia mengacuhkan gue.
Padahal ada banyak orang. Harusnya dia mengabaikan gue. Harusnya kita tetep stranger sampai lomba selesai. Seharusnya begitu.
Tapi hari itu, di tengah kerumunan rawan itu, dia nyapa gue, foto bareng gue (fotonya berempat, sih), ngobrol sama gue, bahkan ngerjain gue!
Temen-temen dia sampai heran melihat dia ketawa-ketawa sambil nyipratin air mineral ke gue yang misuh-misuh kebasahan.
Karena di mata sekolah, kami adalah stranger. Kami bahkan bukan teman. Hubungan kami cuma sebatas senpai-kouhai yang kebetulan ikut lomba yang sama. Nggak lebih.
Karena di mata semua orang, dia itu pasif. Ngomong aja jarang, ketawa apalagi. Dia bukan orang yang mau memulai obrolan, atau bahkan ngerjain orang.
Sedangkan gue cuma stranger.
(Dan setelah lomba selesai, gue iseng nyanyi OST Naruto di mobil. Tahu apa? Dia ikutan nyanyi. NYANYI. Hal yang bahkan ngebayanginnya aja gue nggak bisa.
Bagi gue, semua itu terlalu spesial).
Tiga.
Yang ini sebenarnya sangat amat nggak penting, tapi paling membekas diantara semuanya.
Gue udah kelas 3, masa sibuk-sibuk ujian. Kebetulan waktu itu gedung sekolah gue direnovasi, jadi kelas 3 berbagi gedung sama kelas 2 (alias kelasnya dia).
Nah, otomatis kelasnya 'kan pagi-sore tuh.
Rumah gue sama sekolah itu jaraknya deket, jadi gue biasa jalan kaki. Saat itu adalah jam pulang sekolah. Gue jalan pulang dengan santai, sendirian.
Kemudian di belokan, samar-samar gue ngelihat sosok yang gue kenal. Sosok yang setahun ini jadi objek pengamatan gue.
Gue menyangkal dalam hati, Bukan dia, ah. Kan biasanya dia naik angkot, bukan jalan kaki.
Dengan gugup, gue terus berjalan. Mendekat, mendekat, mendekat, dan... itu benar dia.
Sendirian. Kita saling melihat dari jauh. Dia ngeliat gue, gue pura-pura nggak sadar. Dia senyum yang itu, gue pura-pura batuk.
Kita papasan. Jantung gue rasanya mau meledak.
Karena sepanjang jalan, dia nggak berhenti ngeliat gue. Memaku pandangan ke gue seolah gue ini orang penting. Dan terlebih, dia tersenyum, senyum yang pengen gue lihat selamanya itu. Dia memang nggak nyapa, tapi tatapan dan senyuman itu sudah menjelaskan banyak hal. Sikap kecilnya itu sudah memberi efek yang dahsyat.
Karena itu adalah DIA. Dia yang pasif, dia yang tidak mengistimewakan siapa pun. Selama ini gue mengamati, dia nggak pernah melihat orang lain sampai segitunya, sampai natap sepanjang jalan.
Cuma gue.
Gue berharap suatu saat gue bisa nanya langsung apakah 'keistimewaan' yang dia kasih ke gue dulu itu berarti 'sesuatu'.
.
.
"Finally, it's nothing."
.
.
Mirisnya adalah; pada akhirnya semua keistimewaan itu ternyata tidak berarti apa-apa.
Sebab beberapa minggu sebelum gue UN, dia jadian sama temen sekelasnya.
Gue patah hati.
Mirisnya(2), gue yang berbangga hati jadi pengamatnya ini malah melewatkan eksistensi si 'temen sekelas'-nya ini.
Jadi, ahem, rupa-rupanya si 'temen sekelas' ini adalah sepupu dari sahabat gue.
Dan sahabat gue sangat dekat dengan adeknya ini. Otomatis dong gue sering ikut nimbrug setiap mereka ngobrol, dan otomatis pula gue ngeliat gimana gaya pacaran si sepupu sama si dia. Nggak seperti sebelumnya dimana gue mengamati diam-diam, kali ini pemandangan brokoro itu tersaji apik di depan hidung gue.
Rasanya antara pengen nangis sama pengen ngumpat. Nangis karena baper, ngumpat karena TRUS NGAPAEN LO NGASIH GUE HARAPAN PALSU SHIYAL SENYUMAN BULLSHIET KENAPA GUE LEMAH BANGET SAMA SENYUMAN ITU—satu hal yang bikin gue nggak bisa benci sekaligus bikin gue jatuh berkali-kali.
So—yeah, akhirnya gue mundur.
Meskipun pacaran mereka nggak long last—putus pas tahun ketiga kalau nggak salah, tapi gue udah keburu fokus ujian dan segala macem yang anak kelas tiga normal lainnya lakukan. Gue mulai nggak mikirin lagi. Atau tepatnya mencoba untuk nggak mikirin dia lagi.
.
.
"Reuni."
.
.
Setelah memasuki SMA, gue mencoba mencari seseorang yang bisa bikin gue suka dan move on dari dia. Nemu kakak kelas populer yang ganteng abis, tapi bukan untuk dijadiin pacar sih, cuman buat crush doang mah biar ada distraksi atas kehidupan SMA yang abu-abu kayak seragamnya. Gue udah yakin bakal bisa move on, tapi ternyata gue terlalu percaya diri.
Nggak beberapa lama setelah resmi jadi anak SMA, ada upacara adat di pura umum yang bisa dibilang pura pusat dari suatu Kecamatan gitu lah ya. Jadi karena kita berdua ada di satu kecamatan yang sama, otomatis kita ketemu. Pertemuan yang beneran biasa aja sebenernya tapi sampai sekarang gue inget jelas kejadiannya.
Jadi malam itu, pura udah penuh banget sama orang. Gue udah selesai sembahyang jadi gue keluar pura. Kebetulan jalan masuk dan jalan keluarnya itu satu, jadi sambil ngantri gue jalan pelan turun tangga. Gue awalnya nggak lihat dia yang lagi naik tangga, sampai kita papasan pun gue nggak lihat. Baru akhirnya setelah gue sampai di bawah tangga, gue noleh dan liat dia udah hampir sampai di atas, lagi ngeliatin gue sambil senyum. Senyum yang—
Tarik napas. Hembuskan.
Jantung gue berdebar lagi. Kenceng banget. Isi kepala buyar semua, rasanya gue mau meledak saat itu juga.
Kenapa? Kenapa gue lemah banget? Kenapa rasanya pertahanan yang coba gue bangun demi melupakan dia tuh langsung roboh cuma dengan bersitatap sekali doang?
Seakan belum cukup, gue lihat dia nganterin adeknya beli mainan, terus gue kebetulan belanja tepat di sebelahnya. Gue gemeteran. Gue menimbang seribu kali apakah harus nyapa atau enggak. Nunggu dia nyapa? Boro-boro, dia itu sepasif pohon nangka. Jadi harus gue yang memulai. Hampir aja dia pergi, tapi langsung gue cegat dan nanya dengan suara gemetar.
"Hai, apa kabar?"
Dia ngejawab antusias sambil senyum. Gila. Memang orang ini udah gila. Kok bisa gitu ngobrol sesantai itu sama gue. Apakah dia nggak tahu kalau inner gue udah jumpalitan teriak girang gak jelas?
Kita ngobrol sambil di-cie-in sama adeknya haha. Gue nggak peduli, dan dengan sangat mengejutkan, dia pun nggak peduli sama adeknya itu. Kenapa? Ini bikin gue berharap lagi, duh. Sialan.
Basa-basi singkat itu berakhir karena gue harus pergi. Rasanya berat banget. Rasanya pengen ngobrol lebih jauh, pengen lihat dia lebih lama.
Rasanya rasa itu bukannya hilang, tapi malah semakin besar.
.
.
"Something changed."
.
.

Komentar
Posting Komentar