Udah Nggak Cocok Nonton Animasi Seperti Ini
So, I am watching this so-called-cartoon today and having a thought.
Lucky, MC kita ini kehilangan ibunya sewaktu bayi. Si ayah yang kayaknya ngerasa nggak mampu ngurus sendirian, akhirnya ngirim Lucky buat tinggal bareng kakek dan bibinya, Cora.
Di rumah si kakek, Lucky dibesarkan a la bangsawan dengan segala tetek-bengek yang kalian semua lihat di berbagai media. Sebagai bocah yang pengennya maen mulu, tentunya dia nggak suka, dong. Dan itu nggak masalah, sebenernya. Gue fine aja dengan karakterisasi bocah semacam itu.
Yang bikin gue agak annoying, oke, sangat annoying adalah gimana ini bocah tuh nggak sadar kalau dia tuh nakal. Kakeknya mau jadi walikota dan bikin jamuan penting, eh dirusak hancur lebur sama si cucu nakal.
Trus juga pas ke kampung ketemu bapaknya, si Cora kan nemenin tuh. Nggak kehitung deh udah berapa masalah yang dia buat, dan dia tuh nggak sadar akan hal itu. Dia sama sekali nggak berpikir kalau keluar kereta dan mencoba mengelus kuda yang lagi lari (ya, beneran, cius) tuh bahaya. BAHAYA. Animasi sih, tapi tetep aja asdfghjkl.
Tiap kali Cora lagi kesulitan juga cuma diketawain sama dia. Bantuin kek, woy, yalord. Mungkin diri gue di umur yang jauh lebih muda dari sekarang tuh mikir kalau itu seru kali ya, tapi sekarang saat gue udah memasuki usia yang terbilang dewasa, kelakuan Lucky tuh bikin gue kesel banget, jujur.
Dulu mungkin gue sering berpikir, kenapa sih kita musti ngikutin aturan tatanan masyarakat? Kenapa kita mau mengikat diri kita sendiri? Tapi setelah gue ngerasain yang namanya berbaur di masyarakat, gue sadar kalau begitulah cara untuk survive. Kakek dan bibinya ngajarin jalan bangsawan karena itu cara mereka buat bertahan selama ini, dan gue pengen Lucky mengerti akan hal itu.
Setidaknya jaga sikap, jangan bandel. Memang mungkin kamu nggak bahagia melakukannya, tapi kakek sama Cora pasti senang ngeliat kamu nggak pecicilan.
Sekarang kalau dipikir lagi, emang bener kalau bahagia tuh nggak bisa diraih kalau kita nggak egois. Coba aja liat Lucky. Dia seneng tuh menjadi 'bebas', tapi dia sama sekali nggak mikirin bibi dan kakeknya yang pengen Lucky setidaknya behave lah sedikit, demi agar keluarga terpandangnya bisa survive. Ya dia cuma mikirin dirinya doang, alias jadi egois.
"Mereka mungkin bahagia ngeliat gue bahagia?"
But have you ever ask them? Tentu orangtua bakal seneng juga kalau kita bahagia, tapi bukankah itu juga berlaku sebaliknya? Kita juga bakalan seneng kalau orangtua kita seneng?
Jadi, karakter paling ideal bagi gue sekarang ini adalah, yang bisa mengatur dirinya sendiri. Di acara formal kayak jamuan kakeknya itu, ya bersikaplah sopan layaknya cucu bangsawan. Di desa tempat rodeo ya silahkan bersikap bebas sebahagianya elu. Pinter bawa diri, istilahnya.
Gue bukan people pleaser. Gue sangat, amat, egois. Mungkin karena ini gue nggak pernah iri sama kehidupan orang lain. Gue seneng jadi diri gue yang egois ini. Tapi juga gue berusaha menyenangkan orang-orang yang penting bagi gue, meskipun sebenernya itu bukan hal yang mau gue lakukan, tapi gue rela kalau untuk mereka.
So, yeah, dulu gue sangat menikmati karakter 'rebel' macam Lucky, tapi sekarang gue malah kesel hahaha. Pertanda kalau cara pandang gue udah berubah, dan pertanda kalau sepertinya gue udah nggak cocok nonton animasi seperti ini.

Komentar
Posting Komentar